pada suatu pagi...
"Shodaqallahul'azhiim . . . "
Kalimat pujian kepada Allah kami lantunkan setelah semua peserta didik Tahsin Qur'an -disalah satu daerah Jakarta Selatan- selesai bergiliran membacakan selembar demi selembar ayat-ayat suci Al Qur'an. Kemudian tibalah waktunya Ustadz Pembimbing kami memberi nasihat penutup sebelum berakhirnya kegiatan belajar mengajar dipagi itu.
"Untuk melancarkan bacaan Al-Qur'an , kita harus senantiasa berteman dengan Al Quran itu sendiri, InsyaAllah mata dan lisan kita nantinya akan terbiasa dan terjaga yang nantinya memperkecil kemungkinan kesalahan dalam membaca Al Quran" Ujar Ustadz pembimbing sambil menatap satu persatu mata Siswanya yang saat itu dihadiri oleh 4 orang siswa. Lalu ustadz tersebut bertanya kepadaku "Kamu berapa lembar sehari dalam membaca Al Qur'an?". Lantas Saya menjawab "Allhamdulilllaah saya mengikuti program dari Komunitas One Day One Juz, Ustadz". "Allhamdulillaah, itu memang salah satu metode saat ini yang mulai banyak digunakan, terlebih teknologi yang semakin hari semakin memudahkan kita untuk disibukkan dengan Al Quran".
"Maaf Stadz" tiba-tiba seorang peserta didik yang sudah terbilang cukup tua, bahkan janggut dan rambutnya 3/4 lebih sudah memutih itu tiba-tiba mengambil kesempatan bicara
.
"Saya punya metode yang menurut Saya pribadi, metode ini ampuh, Ustadz".
Ustadz pembimbing lantas tersenyum sambil bertanya balik "Apa itu, Pak? ".
"Maaf kalau Saya jadi curhat ya Ustdaz dan teman-teman, Saya ini sebenarnya mengidap penyakit Jantung. Penyakit mematikan ini sudah jadi bagian dari hidup Saya bertahun-tahun lamanya. Saya selalu rutin berobat dan konsultasi dengan dokter langganan Saya. Setiap berobat entah mengapa Saya selalu merasa tenang dan tentram. Bukan, bukan karena Saya nyaman dengan dokternya, tetapi Saya nyaman ketika saya diberi Obat yang dengan Obat itu Saya bisa kemana saja tanpa harus khawatir jika Jantung Saya kumat" Bapak tua itu langsung merogoh saku celananya dan menunjukkan obat yang dimaksud beliau. "Obat ini Saya taruh dibawa lidah saya jika Jantung Saya Kumat dan Saya sedang berada di luar rumah.
"Yang lebih Aneh lagi, sewaktu Saya ingin merencanakan bepergian jauh keluar rumah, maka yang pertama kali saya cari adalah informasi keberadaan Rumah Sakit terdekat, hehe" tertawa kecil kemudian menyelingi curhatannya yang disambut juga dengan tertawa kecil dari peserta yang lain.
"Tapi Ustadz dan teman-teman, setelah Saya mengenal Al Quran, setelah saya menjadilan Al Quran sebagai sahabat Saya, Semenjak Saya mempelajari lebih dalam tentang Qur'an, MasyaAllah...Saya menemukan sesuatu yang beda Stadz. Saya menemukan sesuatu yang lebih membuat hati Saya tenang dibandingkan dengan obat yang biasa Saya kantungin ini" beliau menelan ludah, seakan ingin menyembunyikan tangis namun tak mata yang berkaca-kaca mencerminkan apa isi hatinya, sementara 4 pasang mata menatap dan menyimak cerita Beliau dengan Sangat khusyuk.
"Allhamdulillaah, Sekarang kemanapun dan kapanpun Saya pergi, Saya tidak perlu lagi mencari Informasi Rumah Sakit terdekat. Sekarang, yang Saya cari disaat Saya ingin bepergian jauh adalah mengingat lokasi-lokasi Masjid terdekat yang telah Saya lewati. Masjid yang apabila Jantung ini kumat, akal ini bergegas membawa Saya menuju ke Masjid itu. Bergegas juga memanggil Sahabat Saya tadi, Ustadz - Al Qur'an - Sahabat yang selalu ada disaat senang dan susah, hingga apabila saat itu adalah saat terakhir Saya diberi kesempatan menghirup nafas panjang, InsyaAllah Malaikat mendapati Saya dalam keadaan membaca Kitabullah, dalam keadaan dimana saat itu saya bertamu dirumah Allah dan saat-saat Khusnul Khatimah, InsyaAllaah "
"Aamiin" Ustadz dan peserta didik yang lain serentak mnyahut akhir cerita indah tersebut. Saya tahu masing-masing kami pasti saat itu sedang menangis. Walaupun bukan Air mata yang keluar, namun didalam hati siapa yang tahu.
Cerita itu membuat Saya malu, membuat Saya tertunduk haru, menyingkap tanya didalam hati "siapa Aku? dan berapa banyak amalanku? Cerita itu menyadarkanku akan satu hal.
Al Quran itu obat bius yang jauh lebih menenangkan tanpa membuat pembacanya tertidur. . .
Al Qur'an itu obat depresi tanpa efek samping yang membuat pembacanya jauh lebih terhibur. . .
Al Qur'an itu obat segala penyakit bahkan sampai organ yang dengan alat medis tak terukur. . .dan. . .
Al Quran itu obat yang menjelma menjadi sahabat disaat engkau senang atau tersungkur. . .
"Shodaqallahul'azhiim . . . "
Kalimat pujian kepada Allah kami lantunkan setelah semua peserta didik Tahsin Qur'an -disalah satu daerah Jakarta Selatan- selesai bergiliran membacakan selembar demi selembar ayat-ayat suci Al Qur'an. Kemudian tibalah waktunya Ustadz Pembimbing kami memberi nasihat penutup sebelum berakhirnya kegiatan belajar mengajar dipagi itu.
"Untuk melancarkan bacaan Al-Qur'an , kita harus senantiasa berteman dengan Al Quran itu sendiri, InsyaAllah mata dan lisan kita nantinya akan terbiasa dan terjaga yang nantinya memperkecil kemungkinan kesalahan dalam membaca Al Quran" Ujar Ustadz pembimbing sambil menatap satu persatu mata Siswanya yang saat itu dihadiri oleh 4 orang siswa. Lalu ustadz tersebut bertanya kepadaku "Kamu berapa lembar sehari dalam membaca Al Qur'an?". Lantas Saya menjawab "Allhamdulilllaah saya mengikuti program dari Komunitas One Day One Juz, Ustadz". "Allhamdulillaah, itu memang salah satu metode saat ini yang mulai banyak digunakan, terlebih teknologi yang semakin hari semakin memudahkan kita untuk disibukkan dengan Al Quran".
"Maaf Stadz" tiba-tiba seorang peserta didik yang sudah terbilang cukup tua, bahkan janggut dan rambutnya 3/4 lebih sudah memutih itu tiba-tiba mengambil kesempatan bicara
.
"Saya punya metode yang menurut Saya pribadi, metode ini ampuh, Ustadz".
Ustadz pembimbing lantas tersenyum sambil bertanya balik "Apa itu, Pak? ".
"Maaf kalau Saya jadi curhat ya Ustdaz dan teman-teman, Saya ini sebenarnya mengidap penyakit Jantung. Penyakit mematikan ini sudah jadi bagian dari hidup Saya bertahun-tahun lamanya. Saya selalu rutin berobat dan konsultasi dengan dokter langganan Saya. Setiap berobat entah mengapa Saya selalu merasa tenang dan tentram. Bukan, bukan karena Saya nyaman dengan dokternya, tetapi Saya nyaman ketika saya diberi Obat yang dengan Obat itu Saya bisa kemana saja tanpa harus khawatir jika Jantung Saya kumat" Bapak tua itu langsung merogoh saku celananya dan menunjukkan obat yang dimaksud beliau. "Obat ini Saya taruh dibawa lidah saya jika Jantung Saya Kumat dan Saya sedang berada di luar rumah.
"Yang lebih Aneh lagi, sewaktu Saya ingin merencanakan bepergian jauh keluar rumah, maka yang pertama kali saya cari adalah informasi keberadaan Rumah Sakit terdekat, hehe" tertawa kecil kemudian menyelingi curhatannya yang disambut juga dengan tertawa kecil dari peserta yang lain.
"Tapi Ustadz dan teman-teman, setelah Saya mengenal Al Quran, setelah saya menjadilan Al Quran sebagai sahabat Saya, Semenjak Saya mempelajari lebih dalam tentang Qur'an, MasyaAllah...Saya menemukan sesuatu yang beda Stadz. Saya menemukan sesuatu yang lebih membuat hati Saya tenang dibandingkan dengan obat yang biasa Saya kantungin ini" beliau menelan ludah, seakan ingin menyembunyikan tangis namun tak mata yang berkaca-kaca mencerminkan apa isi hatinya, sementara 4 pasang mata menatap dan menyimak cerita Beliau dengan Sangat khusyuk.
"Allhamdulillaah, Sekarang kemanapun dan kapanpun Saya pergi, Saya tidak perlu lagi mencari Informasi Rumah Sakit terdekat. Sekarang, yang Saya cari disaat Saya ingin bepergian jauh adalah mengingat lokasi-lokasi Masjid terdekat yang telah Saya lewati. Masjid yang apabila Jantung ini kumat, akal ini bergegas membawa Saya menuju ke Masjid itu. Bergegas juga memanggil Sahabat Saya tadi, Ustadz - Al Qur'an - Sahabat yang selalu ada disaat senang dan susah, hingga apabila saat itu adalah saat terakhir Saya diberi kesempatan menghirup nafas panjang, InsyaAllah Malaikat mendapati Saya dalam keadaan membaca Kitabullah, dalam keadaan dimana saat itu saya bertamu dirumah Allah dan saat-saat Khusnul Khatimah, InsyaAllaah "
"Aamiin" Ustadz dan peserta didik yang lain serentak mnyahut akhir cerita indah tersebut. Saya tahu masing-masing kami pasti saat itu sedang menangis. Walaupun bukan Air mata yang keluar, namun didalam hati siapa yang tahu.
Cerita itu membuat Saya malu, membuat Saya tertunduk haru, menyingkap tanya didalam hati "siapa Aku? dan berapa banyak amalanku? Cerita itu menyadarkanku akan satu hal.
Al Quran itu obat bius yang jauh lebih menenangkan tanpa membuat pembacanya tertidur. . .
Al Qur'an itu obat depresi tanpa efek samping yang membuat pembacanya jauh lebih terhibur. . .
Al Qur'an itu obat segala penyakit bahkan sampai organ yang dengan alat medis tak terukur. . .dan. . .
Al Quran itu obat yang menjelma menjadi sahabat disaat engkau senang atau tersungkur. . .
